Ziarah Jejak

Tiba tiba sapamu mengguncang dunia beku. Menanyakan jejak jejak kaki kita yang membatu jadi catatan di langit rahasia. Dua kalimat saja, maka seolah Raflesia Arnoldi, cerita menyeruak kembali, seperti baru kemarin terjadi. Seperti tak pernah berhenti dipenggal waktu.

Terbaca rindu membuncah, rindu pada bunga bunga tetanaman kisah yang pernah kita semai sambil bergandengan tangan dulu. Sepanjang jalan buntu, dunia kecil berpelangi dimana sebatang pohon rindang mengakar di savananya. Kita pernah membagi tangis dan tawa yang menderu seiring rindu yang selalu menggebu, sampai segala drama terindah itu tumpas oleh logika yang rapi terjaga.

Setetes embun luruh di ladang gersang batin. Laksana ribuan tahun tak menemu sejuk, lesap dalam penghayatan rindu masa silam. Kita bersimpuh taklim dihadapan pusara kenangan. Menziarahi sejarah yang terkubur dibalik awan gemawan. Taburkan bunga sebagai pertanda, bahwa kita masih memelihara cinta nomor satu di dunia itu; meski hanya tinggal kuburannya.

Tak menjadi penting ketika hari hari kita dihiasi beling, seperti halnya langkah kakiku yang pincang pun kadang mendaki. Mungkin kita tak akan pernah menang menumpas bayi bayi iblis dengan matapedang, tetapi setidaknya kita pernah merasakan kemenangan; sanggup mengabaikan siksaanya barang setarikan nafas panjang.

Engkau tahu? Aku menjadi yakin bahwa makam cinta kita telah menjelma jadi surga yang mendamaikan diam diam. Dan kita bebas untuk sekedar berziarah dalam terawang. Memang rindu menikam nikam seolah merajam, tetapi setidaknya telah dipaksakan tumbuh kesadaran baru tentang langkah terpisah yang harus kita jaga tanpa goyah.

Kita nikmati petualangan petualangan bisu yang maha sepi, lalu mencoba menorehkannya di langit khayali. Langit yang melulu berisi warna kelabu, tempat kita rajin memuja rasa. Pengharapan demi pengharapan berjajar bersama mimpi, dengan segudang kebarangkalian yang begitu kita yakini akan terjadi.

Di kota kota yang jauh kucabik cabik sepi yang yang selalu mengusung bayangan masa silam. Seolah berjalan di pematang tanpa ujung, kukumpulkan kisah kisah yang membias di angin musim penghujan. Kisah ini tak akan pernah berkesimpulan, seperti halnya pepamitan yang tak pernah bermakna perpisah. Sebab kita tahu, kita selalu menemukan jalan untuk pulang ke bawah pohon rindang, tetanaman riwayat teduh masa silam.

Paiton, 150309

By: Buderfly

Advertisements

Perang


Aku punya peperanganku sendiri
Hanya aku yang tahu
Betapa bingarnya suara setan bersahutan

Ketika bisingnya suara iblis mengguncang
Membuatku luluh terhempas
Tergulung ombak sinisme yang tak pernah puas

Kadang aku sembunyi 
Terdiam dibalik tembok sisa 
Menyesapi segala suara
Menelusuri segala desing

Tapi tak jarang pun aku melawan
Melemparkan logika pada lawan
Berargumen dengan senjata pikiran
Aku tak mau kalah

Peperanganku hanya aku yang tahu
Engkau tak perlu tahu, wahai sebelah jiwa
Ini punyaku

Lihat saja aku dari sudut doamu
Hanya itu yang bisa menguatkanku
Darimu..

Karena ini peperanganku

Rumah, 04 Juni 2017 (14.37)

Kepada diri…

Puisi kepada diri

Yang menggapaimu hingga ke palung jiwa
Yang memayungi hatimu dari sinar mentari
Yang memagut lelahmu ketika tak lagi berdaya
Yang menyambut air matamu dengan teduh

Biarlah bumi yang lihat rapuhmu
Menyapu senyum berulas peluh
Takkan kuasa dirimu mendulang bulan
Takkan berdaya tanganmu melukis percik

Kuatkan diri
Lewati masa

Waktumu akan tiba
Benderang terang akan lampaui bisamu

Yang teguh, wahai diri…

Rumah, 6 Jan 2017 (16.19)

Wounds

Wounds

I may not be as glittery as the stars but I am the air you breathe in
I may not be as shiny as the diamonds but I am the beat in your vein
But this mind is lost in the dark

Broken and crippled

It may sounds like a playground to you
But it feels like a field of thorns for me

Only I know the wounds

Only I can measure my strength

You will never know
I wont let you know

Hospital, 30 Des 2016 (00:10)

Kopong

Kopong

Luarku bisa menipumu

Senyumku bisa menghiburmu

Telingaku bisa menyimakmu
Tapi kau tak bisa tahu dalamku

Kau tak pernah pikir selamku
Kututup rapat walau kadang tak sempurna

Kujejal kopongku dengan waktu

Biar kokoh luarku

Biar tak usah kau lihat rapuhku yang mungkin konyol buatmu

Tak putus aku minta ke Pemilikku
Supaya boleh mengisi kopongku

Mengikat pikiran biar tetap tegap
Supaya jangan roboh aku

Rumah, 23 Des 2016 – 0020

The 9th

castle-505889_640
It’s been 9 years already
Being in the same boat with you
Going through the calm blue sea
Going through the dark stormy sky

We may not be nice to each other all the time
We may not be present in every occasion
We laugh along the way, we cry some other way

But all roads lead back to you, you said
And my destination is always you, I knew

Happy 9th Anniversary, my love
May we have countless numbers ahead
For the goods and bads
For eternity

Home, November 10, 2016 – 00.02

Kelam

shadows-915780_640

Hanya legam terlekang malam

Mencuri senyum dari sudut hati

Tak lepas setan menggenggam

Meregang jiwa yang tertusuk belati

 

Jangan lengah, wahai diri

Tombakkan waktu lewati hari

Murkamu bisikkan luka

Menghujam bagai celaka

 

Tak kalah aku olehmu

Menjejak cerita walau semu

Kuatkan aku

Biar sanggup lewati waktu

Home, 6 Juni 2016 (2208)